Tampilkan postingan dengan label kabar madura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kabar madura. Tampilkan semua postingan

Pamekasan School Fair 2019

Pamekasan School Fair 2019 remi dibuka oleh Wakil Bupati Pamekasan, Raja'e di Lapangan Nagara Bhakti kompleks Mandhepa Ronggosukowati, Jl Pamong Praja Nomor 1 Pamekasan, Senin (14/10/2019) malam.

Pamekasan School Fair 2019
sumber gambar: https://beritajatim.com


Pembukaan Pamekasan School Fair dan Bursa Buku menjadi program pembuka dalam berbagai rangkaian acara memeriahkan Hari Jadi (Harjad) Ke-489 Kabupaten Pamekasan. Sekaligus menggali nilai budaya lokal, guna melestarikan berbagai budaya dengan orientasi mengembangkan rasa percaya diri dengan tatanan budaya yang ada.

Pamekasan School Fair dan Bursa Buku, terdapat sekitar 73 stand yang berjejer rapi di area lapangan Mandhepa Agung Ronggosukowati dari berbagai lembaga pendidikan. Mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

Stand Perguruan Tinggi di Pamekasan, antara lain Institut Agama Islam (IAI) Al-Khairat Pamekasan, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bhakti Bangsa Pamekasan, serta Universitas Madura (UNIRA) Pamekasan.

Selain itu terdapat sejumlah stand OPD (Organisasi Perangkat Daerah)  yang mempromosikan berbagai program hingga produk andalan.

Diharapkan dengan adanya kegiatan ini bisa memberikan dampak luar biasa, salah satunya demi menanamkan aura positif bagi generasi mendatang. Kegiatan harus dijadikan sebagai tradisi di tahun-tahun yang akan datang dengan perubahan dan perkembangan. Salah satunya melalui aspek inovasi dari berbagai potensi yang dipamerkan dan tentunya dengan kemasan baru dan berbeda pula.

Rangkaian Hari jadi Ke-489 Pamekasan


Kegiatan rangkaian Hari jadi Ke-489 Pamekasan, nantinya akan digelar sebanyak 15 program selama Oktober 2019, serta sebanyak tujuh program pada edisi November 2019.

Rangkaian program Harjad Ke-489 Pamekasan selama Oktober 2019

Pamekasan School Fair, Jambore Pemuda Daerah Tingkat Jatim, Festival Budaya Madura, Mekkasan Matoron Arghe, Gebyar Batik Pamekasan Hebat, East Java Climbing Sportaiment, Madura Eksotic Carnival, Seminar International, Malam Kemilau Madura, Gebyar Kolosal 489 Tari Topeng Gettak, Madura Music Daul Fertival, Pekan Budaya Madura, Pamekasan Drumband Carnival, serta Haul Ronggosukowati.

Rangkaian program Harjad Ke-489 selama November 2019

Lomba PBB Pasukan 8, Kirab Budaya Madura, Run 13K se Jawa Timur, Sinergitas Trail Adventure, Upacara dan Rapat Paripurna, Pesta Rakyat Pamekasan Hebat, serta Gerak Jalan Tradisional Palapa. 


Pamekasan School Fair 2019

Ladang Bunga Matahari Jadi Tempat Wisata

Awalnya Saputra tidak pernah menyangka bahwa bunga matahari yang ditanam di lahan pertaniannya menjadi daya tarik sebagai tempat wisata oleh banyak orang terutama kaum remaja. Saputra hanya menanam bibit bunga matahari dan berharap penghasilan dari biji bunga matahari yang dijadikan camilan kuaci ketika panen.

Ladang Bunga Matahari (image: https://radarmadura.jawapos.com)
Penanaman bibit bunga matahari di lahan seluas sekitar 20x50 meter di Desa Montok, Kecamatan Larangan, Pamekasan itupun awalnya hanya mengikuti saran dari petugas penyuluh pertanian lapangan (PPL) setelah ladang pohon pisang yang ditanam banyak yang mati.

Setelah dua bulan merawat bunga matahari bersama rekannya, saat mulai bunga mulai bermekaran, terjadi pemandangan yang mengagumkan di areal ladang. Keindahan bunga matahari yang mekar diabadikan oleh masyarakat serta diunggah ke media sosial.

Foto-foto yang tersebar di medsos direspons baik oleh netizen dan pada akhirnya, banyak yang berkunjung melihat langsung keindahan bunga matahari. Saputra tidak menyangka akan menjadi spot wisata.

Menurut Azhar Arifin, 20, pengunjung asal Desa Pragaan Laok, Kecamatan Pragaan, Sumenep, yang dikutip dari laman radarmadura.jawapos.com, mengatakan bahwa kebun bunga matahari tersebut termasuk salah satu spot wisata yang langka. Dia berharap pemerintah harus berperan dalam proses pengembangan.

"Sangat cocok untuk anak muda. Warna kuning yang khas juga menjadi daya tarik kaum milenial. Meskipun orang tua juga bisa berswafoto di area kebun," katanya.

Kepala Disparbud Pamekasan Achmad Sjaifuddin mengaku senang jika masyarakat ingin bekerja sama untuk pengembangan tempat wisata. Nanti bisa langsung dengan disparbud atau melalui badan usaha milik desa (BUMDes).

"Kami menyambut baik jika pemilik lahan mau berkoordinasi dengan pemerintah," katanya.

Menurut dia, perlu tambahan wahana baru yang belum dibangun di tempat wisata lain. Tujuannya, agar pengunjung tidak bosan.

"Harus ada ciri khas di tempat wisata itu", lanjut Achmad Sjaifuddin.

Saputra pun berniat untuk memperluas kebun bunga matahari miliknya. Selain itu, akan ditambah wahana-wahana baru untuk menarik minat pengunjung. Rencananya, akan diperluas dan ditambah dengan kolam renang.


Ladang Bunga Matahari Jadi Tempat Wisata

Perpustakaan Desa di Pamekasan Banyak Yang Mati Suri

Data Perpustakaan Daerah (Perpusda) Perpusda Pamekasan, desa yang sudah memiliki perpusdes 88 desa. Namun, yang berjalan dan dimanfaatkan masyarakat baru 15 perpusdes. Sementara 73 perpusdes di antaranya belum aktif atau mati suri.

Perpustakaan Desa
Realisasi perpustakaan desa (perpusdes) di Pamekasan belum berjalan maksimal. Perpusdes yang sudah dibangun kurang dimanfaatkan masyarakat.

Perpustakaan Desa Mati Suri


Pustakawan Perpusda Pamekasan Kusairi mengatakan, untuk membangun perpusdes membutuhkan komitmen dari pemerintah desa (pemdes). Jika tidak, akan berpengaruh terhadap pekembangan perpusdes.

Ada beberapa faktor yang menjadi kendala dalam pengembangan perpusdes. Di antaranya kurangnya dukungan dari pemerintah desa. Seperti penyediaan ruangan, sarana prasana, dan sumber daya manusia (SDM).

”Di antara perpusdes yang aktif, komitmennya sangat luar biasa. Kades mengunakan dana desa dan ADD untuk mengembangkan perpusdes,” kata dia Jumat (7/12).

Kusairi menyampaikan, dari 15 perpusdes yang aktif itu, tidak hanya melayani peminjaman buku. Kades juga memanfaatkan perpusdes untuk berkolaborasi dengan kegiatan lain. Misalnya pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK), Palang Merah Indonesia (PMI), dan posyandu.

”Seperti yang dilakukan perpusdes di Desa Pademawu Timur. Setiap ada posyandu, petugas perpusdes membawa buku ke lokasi posyandu. Jadi, ibu-ibu yang menunggu giliran bisa membaca,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Pamekasan Budi Ashari terus mendorong perpusdes agar terus berkembang. Pihaknya tidak menyerah untuk menghidupkan perpusdes yang belum dirasakan masyarakat.

”Bimbingan tetap teman-teman lakukan. Kami tetap memberikan pembinaan ke setiap perpusdes keliling,” klaimnya.

Sumber: https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/12/08/107520/puluhan-perpustakaan-desa-mati-suri


Perpustakaan Desa Banyak Yang Mati Suri

Peringatan Hari Santri Nasional 2018

Gema peringatan Hari Santri Nasional 2018 sangat terasa di Pamekasan, apalagi Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam, membuat aturan mulai Senin (22/10/2018) hingga Rabu (24/10/2018) aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Pamekasan, dalam menjalankan tugas sehari-hari diwajibkan mengenakan sarung ala santri.

Peringatan Hari Santri Nasional 2018


Bagi masyarakat Madura, pemakaian sarung dalam kegiatan sehari-hari merupakan hal yang biasa. Terlebih di Madura, khususnya Pamekasan banyak berdiri pondok pesantren.

SDN Potoan Laok 1 Palengaan Pamekasan pun melaksanakan aturan Bupati, sehingga pada hari Senin (22/10/2018) untuk guru baik PNS maupun GTT laki-laki mengenakan sarung sewaktu mengajar.

Bagi siswa di SDN Potoan Laok 1 Palengaan, pemandangan guru mengajar menggunakan sarung, sepertinya tidak membuat mereka heran. Selain di sekitar sekolah banyak pondok pesantren, beberapa siswa juga merupakan santri dari pondok pesantren tersebut. Jadi kegiatan belajar mengajar berlangsung seperti biasa saja.

Hari Santri Nasional 2018

Pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2018 kali ini mengusung tema “Bersama Santri Damailah Negeri”

Berkaca pada sejarah, Hari Santri merujuk pada keluarnya Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang memantik terjadinya peristiwa heroik 10 November 1945 di Surabaya yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Resolusi Jihad adalah seruan ulama-santri yang mewajibkan setiap muslim Indonesia untuk membela kedaulatan Tanah Air dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Baca selengkapnya: Sejarah Hari Santri

Sedangkan untuk lagu tema HSN 2018 dapat disaksikan pada video di bawah ini.



Peringatan Hari Santri Nasional 2018

GTK Adalah Pilar Kesuksesan Pendidikan Madrasah

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Ditjen Pendis Kementerian Agama RI Prof. Dr. Suyitno berkunjung ke MTs Negeri 3 Sumber Bungur Pamekasan pada Jumat (19/10/2018). 

GTK Adalah Pilar Kesuksesan Pendidikan Madrasah


Kunjungan Direktur GTK Kemenag ini untuk mengetahui lebih dekat tentang madrasah berprestasi di Madura ini, sebagai wujud visitasi kepada Kepala Madrasah Terbaik Nasional 2018.

Pada saat itu pula, Prof. Dr. Suyitno meresmikan Kantin Tahfidz “Sumber Bungur” (Qur’an, Hadits, Imriti dan Tasrif), Klinik Edukasi “Sumber Bungur” (Untuk GTK di Indonesia) dan Bank Laboratorium Ekonomi (BLE-Syariah) “Sumber Bungur”.

Prof. Dr. Suyitno menegaskan, bahwa guru dan tenaga kependidikan madrasah merupakan pilar dalam suksesnya pembelajaran Madrasah di Indonesia. Sehingga, guru harus terus di pupuk untuk terus ber-inovasi dalam pembelajaran dan mengembangan madrasah.

“Guru dan Tenaga Kependidikan di madrasah adalah melayani kebutuhan peserta didik dalam proses pembelajaran untuk mengantarkan mereka pada kesuksesan dunia akhirat. Menjadi pelayan sama seperti menjadi pembantu dalam proses pembelajaran utamanya di madrasah dan masyarakat,” katanya saat berkunjung ke MTs Negeri 3 Sumber Bungur Pamekasan, Jumat (19/10/2018).

Selain itu, animo masyarakat memasukkan putra-putrinya ke madrasah merupakan suatu anugerah dan kepercayaan masyarakat terhadap madrasah patut dijaga oleh guru dan tenaga kependidikan madrasah di Indonesia.

Sementara itu, Kepala MTsN 3 Sumber Bungur Pamekasan, Ahmad Holis, menyampaikan banyak terima kasih karena tamu istimewa tersebut sudah berkenan berkunjung di MTsN 3 Pamekasan yang cukup jauh dari kota Pamekasan. 

"Terima kasih atas kunjungannya," katanya singkat.

Gempa M 6,4 Situbondo Melanda Madura

Dini hari, 11 Oktober 2018 pada pukul 01.44.57 WIB telah terjadi gempa magnitudo 6,4 yang berpusat di 61 km sebelah timur laut Situbondo, Jawa Timur. Titik koordinat pusat gempa yakni 7,42 Lintang Selatan dan 114,47 Bujur Timur.

pusat gempa situbondo

Berdasarkan keterangan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa ini berada pada kedalaman 10 km dan tak berpotensi tsunami.

Gempa magnitudo 6,4 ini mengguncang Situbondo, Banyuwangi, dan Madura Jawa Timur serta Bali. Gempa ini mengakibatkan adanya kerusakan rumah warga.

Di Madura, wilayah yang mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa Situbondo ini, berada di Kecamatan Gayam Kabupaten Sumenep Jawa Timur. 

Dari data yang diterima Badan Penganggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur dan Sumenep, terdapat 4 rumah dan satu mesjid yang mengalami kerusakan. Berikut data kerusakan rumah yang terjadi akibat gempa ini.

Kerusakan rumah terdapat di:

- Rumah rusak di desa Jambuir, Kecamatan Gayam Kepulauan Sapudi-Sumenep
- Rumah rusak di Kopedi, Kecamatan Bluto - Sumenep
- Rumah rusak di Kertasada, Kecamatan Kalianget - Sumenep
- Masjid Desa Gendang Timur, Kecamatan Sepudi - Sumenep
- Rumah rusak di Nyabakan timur, Kecamatan Batang-Batang-Sumenep

Gempa M 6,4 Situbondo Melanda Madura
Bangunan rusak akibat gempa M 6,4 di Situbondo di Kecamatan Gayam Kepulauan Sapudi, Kab Sumenep. (Dok BNPB)

Selain itu, data sementara dampak gempa dilaporkan 3 orang meninggal dunia. Tiga orang korban tewas tersebut adalah: 

1) Nuril Kamiliya (L/7) Desa Prambanan, Kec. Gayam - Sumenep.
2) H. Nadhar (P/55) Dsn. Jambusok, Desa Prambanan, Kec. Gayam - Sumenep.
3) Laki-laki Dewasa (masih identifikasi) Desa Prambanan, Kec. Gayam - Sumenep.

"Korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh. Kejadian gempa Kamis dini hari saat korban sedang tidur tiba-tiba gempa mengguncang dan rumah roboh sehingga korban tidak bisa menyelamatkan diri," kata Sutopo, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam keterangan persnya, Kamis (11/10/2018). 

Di Pamekasan, juga merasakan getaran akibat gempa Situbondo ini.


Gempa M 6,4 Situbondo Melanda Madura

Beberapa Sekolah di Pamekasan Terancam Disegel Pemilik Lahan

Tiga Sekolah Dasar di Pamekasan yaitu SDN Bujur Barat 2, Kecamatan Batumarmar, SDN Plakpak 3 dan SDN Pesanggar 3 di Kecamatan Pegantenan, sempat disegel oleh pemilik lahan pada tanggal 20 September 2018.

Sekolah di Pamekasan Terancam Disegel
SDN Plakpak 3, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, disegel oleh pemilik lahan

Penyegelan ini berkaitan dengan janji pemerintah yang akan mengangkat pemilik lahan menjadi PNS jika menghibahkan lahannya untuk dibangun sekolah. Namun, setelah 15 tahun menunggu janji itu, para pemilik lahan tak juga diangkat sebagai PNS.

Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Pamekasan, Mohammad Tarsun, meminta kepada pemilik lahan agar menahan diri tidak melakukan penyegelan terhadap lembaga pendidikan. Penyegelan sekolah dinilai tak menyelesaikan masalah, malah berdampak buruk terhadap proses belajar mengajar di sekolah itu.

“Tolong jangan keburu disegel. Mari kita duduk bersama dan berdialog dengan kami untuk mencari jalan keluar terbaik. Dan kami berharap, penyegelan ini jangan sampai berlangsung lama, kasihan kepada siswa yang belajar di lembaga pendidikan di sana,” kata Mohammad Tarsun, kepada sejumlah wartawan, Kamis (20/9/2018).

Menurut Tarsun, sebelumnya pihaknya telah melakukan komunikasi dengan beberapa penghibah lahan. Dan mereka sudah bersedia untuk berdialog bersama dengan Dindik Pamekasan, membicarakan bagaimana jalan terbaik mengatasi persoalan yang mereka hadapi ini. Penyegelan ini tentunya proses belajar mengajar di sekolah itu terganggu.

Supardi, pemilik lahan SDN Plakpak 3, Jumat (21/9/2018), mengatakan pihak Dindik Pamekasan memohon kepada pemilik lahan agar menahan diri tidak menyegel. Dikatakan, Disdik sedang mengusahakan dan menyampaikan persoalan ini ke pusat, maka segel sekolah tempat ia mengabdi dibuka.

“Tadi pagi sekitar pukul 05.00, segel di ruang kelas, ruang kepala sekolah dan ruang guru yang saya segel kemarin pagi itu, sudah saya buka kembali. Anak-anak sudah masuk ke kelas masing-masing dan belajar seperti biasa,” ungkap Supardi.

Menurut Supardi, karena sebagian besar dari pemilik lahan yang mengabdi di sekolah itu usianya sudah di atas 40 tahun, tentu tidak mungkin untuk mengikuti tes CPNS karena tidak akan memenuhi persyaratan, sehingga mereka mau tidak mau minta diangkat PNS.

46 Sekolah di Pamekasan Juga Terancam Disegel Pemilik Lahan

Menurut catatan Dindik Pamekasan, ada 46 lembaga pendidikan atau sekolah lagi yang terancam akan disegel oleh para pemilik lahan, antara lain:

SDN Rek-Kerek 4, SDN Bulangan Barat, SDN Sana Laok 2, SDN Palesanggar 1, SDN Tanjung 3, SDN Tanjung 1, SDN Plakpak 3, SDN Palesangger 2, SDN Tolanto Raja 5, SDN Pangereman 4, SDN Panaguan 1, SDN Panaan, SDN Bajang 1, SDN Bujur Timur 1, SDN Pakong 7, SDN Palesanggaer 3, SDN Tebul Timur 3, SDN Tebul Barat, SDN Pasanggar 5, SDN Pasangger 2, SDN Bujur Timur 2, SDN Pasanggar 3, SDN Binsang 3, SDN Bujur Barat 2, SDN Bulangan Haji 1, SDN Sana Tengah 1, SDN Waru Timur 3, SDN Tebul Timur 3, SDN Batu Kalangan 1, SDN Ambender 4, SDN Dasok 1, SDN Potoan Daya 2, SDN Ambender 2, SDN Plakpak 2, SDN Pasanggar 4, SDN Plakpak 6, SDN Rangperang Daya 3, SDN Plakpak 7, SDN Waru Barat 5, SDN Tagangser 4, dan SDN Batu Bintang 7.
SMPN 1 Pagantenan, SMPN 1 Pasean, SMP Satu Atap Plakpak,  SMPN Palengaan, 
SMAN 1 Waru.

Dari si POLATU:
Semoga kasus penyegelan ini mendapat perhatian dari semua pihak dan mencari jalan bagaimana sebaiknya tanpa mengorbankan pihak-pihak tertentu.

Sumber tulisan dan foto:
Beberapa Sekolah di Pamekasan Terancam Disegel 

Pesona Batik Gentongan Madura

Batik Gentongan memiliki daya tarik tersendiri dari Madura selain karapan sapi dan kulinernya. Pesona kerajinan batik Gentongan Madura memiliki daya tarik dengan motif dan warnanya yang memikat. Selain itu, ternyata batik ini dibuat oleh wanita- wanita yang mewarisi keahlian ini secara turun temurun.

Seperti ditayangkan Horison dalam Fokus Indosiar, Senin (22/1/2018), terekam aktivitas warga sehari-hari di Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan, yang merupakan salah satu sentra batik di Pulau Madura.

Nyaris sebagian besar warga di sini membuat batik tanpa menggunakan pola. Kemampuan membatik ini mereka dapat secara turun-temurun, sehingga desain yang akan dibuat berada di benak wanita-wanita ini.


Keunikan batik Tanjung Bumi ini, motifnya sangat lembut dan penuh mengisi seluruh kain. Untuk warna-warnanya yang cerah, dibuat dari pewarna alami dari kulit pohon buah mundu atau daun tarom.

Pewarnaan dilakukan dengan cara direndam di dalam gentong. Lamanya perendaman agar mendapat warna yang diinginkan dan tahan lama. Karena itu, batik ini populer dengan nama Batik Gentongan.

Motif yang terkenal dari Batik Gentongan adalah motif kucing merinduh, gajah dan uget-uget. Untuk satu potong batik tulis Gentongan, dihargai mulai Rp 2 juta hingga mencapai puluhan juta rupiah per potongnya.


Pesona Batik Gentongan Madura 

Populer

Kategori

Artikel Baru

Rekomendasi Blog